Dewan Pengurus Pusat
Partai Kebangkitan Bangsa

Cak Imin Bukan Mengancam, tapi Menyayangi

Opini
Cak Imin Bukan Mengancam, tapi Menyayangi
Oleh Abdullah Gazam 
 
APA yang disampaikan oleh Ketua Umum DPP Partai Kebangkitan Bangsa Dr. HA Muhaimin Iskandar atau yang akrab disapa Cak Imin dalam program Mata Najwa di Trans7 beberapa waktu lalu itu bukanlah ancaman melainkan realitasnya memang demikian. 
 
Perlu dicermati bahwa jangan sampai trennya Pak Jokowi yang saat ini sedang bagus-bagusnya akan menurun drastis tingkat kepercayaan publik hanya karena salah memilih wapresnya. 
 
Apa pun yang di sampaikan oleh Cak Imin itu adalah bentuk cinta dan sayangnya Cak Imin kepada Pak Jokowi, karena bagaimana pun saat ini sama-sama dalam satu koalisi Indonesia Hebat. 
 
Dulu PKB dan Cak Imin juga yang mati-matian mendukung dan membela Pak Jokowi dalam berbagai serangan isu dan memenangkan pertarungan bersama partai pendukung lainnya seperti PDI Perjuangan, Partai Nasdem dan Partai Hanura. Jadi bukanlah mengancam sebagaimana yang di besar-besarkan oleh petinggi PDIP. 
 
Toh dulu Pak Jusuf Kalla secara terang-terangan menyerang Pak Jokowi menjelang Pemilu 2014 dengan sepotong kalimat bahwa “Jika Jokowi jadi Presiden Hancurlah Negeri ini” dan sungguh sangat menyakitkan ketika itu, tapi pada akhirnya Pak Jusuf Kalla yang kemudian dipilih Pak Jokowi mendampingi Pak Jokowi untuk maju bersama dalam kontestasi Pilpres 2014. 
 
Alhamdulilah Jokowi-JK berhasil memenangkan pemilu presiden dan wakil presiden 2014 lalu. Mengapa itu bisa terjadi, karena kita mau memenangkan Indonesia ini secara bersama-sama dengan meninggalkan semua ego masing-masing. 
 
Di lain sisi kita mestinya banyak belajar dari pengalaman Pilgub DKI Jakarta beberapa waktu lalu, yang saat itu siapa yang dapat mengira sang petahana Ahok akan tumbang alias kalah. Padahal di berbagai survey sebelumnya Ahok diunggulkan jauh dari lawan-lawanya, tapi faktanya juga Ahok kalah, hanya karena isu agama atau isu SARA yang dimainkan oleh lawan politiknya. 
 
Saya sekedar mengingatkan saja kepada tim Jokowi bahwa jangan pernah menganggap remeh kelompok “Sillent Hoppe” yang sudah dikemukakan oleh Cak Imin beberapa waktu lalu. Karena di dalam Sillent Hope itu ada kekuatan Islam yang selama ini diam, jangan sampai saatnya nanti  mereka bukan lagi sillent tapi akan bangkit menjadi satu kekuatan baru yang semakin menguat menjelang Pilpres 2019 mendatang. 
 
Oleh karena itu sebelum terlambat, sebaiknya Pak Jokowi dan PDI Perjungan bersama partai politik yang telah mendeklarasikan untuk mendukung kembali Pak Jokowi maju agar berpikir ulang secara matang. Terlebih dalam menentukan pasangan berlatar belakang Islam yang benar-benar dapat merepresentasikan kekuatan umat Islam Indonesia dalam mengawal pemerintahan lima tahun ke depan.
 
Ingat, tawaran Cak Imin untuk maju mendampingi Pak Jokowi itu bukanlah kemauan pribadi tapi karena keterpanggilan moral dan kemauan para Kiai, santri dan ulama yang menginginkan Indonesia jauh lebih baik lagi ke depan. 
 
Karena jujur saja, jika diamati dari sisi pembangunan fisik secara kasat mata memang pembangunan infrastruktur sangat masif dan nyata dimana-mana, tetapi pembangunan rohaniah manusia Indonesia jauh panggang dari harapan. 
 
Dengan demikian momentum Pilpres 2019 nanti menjadi jalan tengah solusi keterwakilan umat Islam yang benar-benar harus ada di dalamnya. Sehingga yang diharapkan ke depan, Indonesia menjadi negara yang mampu memadukan kekuatan lahiriyah dan batiniyah.
 
 
Penulis adalah Ketua DPW PKB Papua Barat dan Deklarator AMI (Anak Muda Indonesia)