Dewan Pengurus Pusat
Partai Kebangkitan Bangsa

Mempelajari Kitab Kuning Tidaklah Mudah

Berita Utama
Mempelajari Kitab Kuning Tidaklah Mudah

PKBNews - PERHELATAN Musabaqoh Kitab Kuning di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah (Jateng) berlangsung meriah. Santri putra dan putri bersaing menjadi yang terbaik. Kendati membaca kitab kuning bukan perkara mudah dan bukan juga perkara sulit.

"Digelarnya lomba Kitab Kuning salah satu tujuannya untuk membangkitkan tradisi mempelajari kitab itu di kalangan pondok pesantren (ponpes, red). Sekalipun tidak semua ponpes di Sragen mengirimkan santirnya dalam musabaqoh kali ini," kata Ketua Dewan Koordinasi Cabang (DKC) Garda Bangsa Kabupaten Sragen, Muslim, belum lama ini.

Menurut Muslim, jumlah ponpes di Kabupaten Sragen mencapai ratusan, namun yang mengirimkan perwakilannya mengikuti kompetisi kali ini hanya puluhan ponpes. Ia menduga masih banyak ponpes yang santrinya belum menguasai kitab kuning.

"Karena mempelajari kitab kuning itu memang nggak mudah dan ada tingkatan-tingkatannya baik aspek fiqih maupun gramatika bahasa arab. Namun, tidak juga sulit kalau kita menguasai dasarnya," kata dia.

Muslim berkata, penguasaan kitab kuning mutlak diperlukan karena itu akan menjadi pintu masuk untuk menjadi tafsir alQuran yang andal. Lewat lomba Kitab Kuning diharapkan juga memotivasi santri untuk lebih giat mendalaminya.

Legislator asal Gesi itu juga menyampaikan kitab kuning dikarang oleh pengarang besar Islam yang tidak kalah dengan kitab kontemporer dan buku-buku terkini. Nantinya juara di Musabaqoh tingkat kabupaten itu akan dikirim ke ajang provinsi dan jika lolos akan mendapat kesempatan berlaga di jenjang nasional.

Sementara itu, Ketua Dewan Pengurus Cabang (DPC) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Sragen, Mukafi Fadli mendorong ponpes serta santri untuk lebih giat mempelajari Kitab Kuning.

Sementara Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sragen, Ma’ruf Islamudin menekankan penguasaan kitab kuning sangat penting sekali karena mendatangkan banyak barokah. Ia juga berpesan jika ingin membesarkan NU, masyarakat diminta memasukkan anaknya ke ponpes.