Dewan Pengurus Pusat
Partai Kebangkitan Bangsa

NU Istiqomah Menjaga Kebhinekaan di Indonesia

Berita Utama
NU Istiqomah Menjaga Kebhinekaan di Indonesia
PKBNews - HARI ini, 31 Januari 2017, Nahdlatul Ulama (NU) -- organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia -- genap berusia 91 tahun. Usia yang sudah sangat matang. 
 
NU adalah salah satu organisai Islam terbesar di Indonesia dan terlibat langsung proses perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia (RI) pada 17 Agustus 1945. Sejarah tak pernah melupakan peran penting NU dalam proses perjuangan kemerdekaan RI. 
 
Sejarah mencatap bahwa Hadratus Syeikh Hasyim Asy’ari yang memelopori berdirinya organisasi NU sebagai wadah bagi kaum Ahlus Sunnah wal Jama’ah di Tanah Air.
 
Terkait dengan Harlah NU, Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat (DPP) DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), H. Abdul Kadir Karding mengatakan bahwa sejak dilahirkan, NU senantiasa istiqomah memberikan kontribusi sekaligus menjaga kebhinekaan bangsa demi utuhnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kendati demikian, negara justru belum sepenuhnya hadir untuk NU.
 
“NU banyak menanggung risiko ketika memperjuangkan kebhinnekaan Indonesia, tetapi negara rasanya belum sepenuhnya hadir untuk NU,” Abdul Kadir Karding (AKK) di Jakarta, Selasa (31/1/2017).
 
Menurut AKK, harapan besar tersebut, tentu sangat beralasan. Selain NU sebagai organisasi terbesar di Indonesia, dalam sejarah, NU juga terbukti tidak pernah berkhianat pada negara.
 
Selain itu, keberadaan NU sangat berdampak positif bagi tiap lini kehidupan bangsa, baik di wilayah ubudiyah maupun amaliyah.
 
Karding menambahkan orientasi dakwah NU yang mengedepankan tawazun, tasamuh, dan ‘adalah dalam berdakwah terbukti mampu memberi pemahaman Islam yang tidak jumud dan statis bagi tiap umat Islam, terutama Nahdliyyin di Indonesia.
 
“Mendakwakan dan menyebarkan virus Islam Nusantara adalah langkah tepat NU dalam menjaga kebhinnekaan kita,” kata AKK.
 
Karena hal ini pula, AKK sangat berharap NU tetap mengembangkan tafsir moderat terhadap ayat-ayat Qur’ani sesuai dengan kaidah tafsir yang disepakati oleh ulama (ijma’ ulama).
 
“Agar masyarakat tidak salah paham atau pemahamannya salah terhadap agama,” tandas AKK.