Dewan Pengurus Pusat
Partai Kebangkitan Bangsa

Rakyat Rindu Sosok Soekarno dan Gus Dur

Berita Headline
Rakyat Rindu Sosok Soekarno dan Gus Dur

PKBNews - KETUA Umum (Ketum) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar atau Cak Imin meyakini rakyat Indonesia tengah meridukan sosok Soekarno dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) untuk menghadapi problematik yang mendera bangsa ini. Dari mulai hoax, darurat narkoba, korupsi, miras oplosan sampai dengan geng motor. Belum lagi persoalan bencana alam yang tak kunjung teratasi.

"Rakyat memiliki keyakin kalau pemikiran Soekarno dan Gus Dur mampu mengatasi persoalan yang sekarang terjadi. Dari sana kemudian saya menyadari kalau penggabungan pemikiran Soekarno dan Gus Dur mampu menjawab kebutuhan bangsa saat ini," ujar Cak Imin belum lama ini.

Apalagi, ungkap Cak Imin, Bung Karno berkata bahwa api Islan harus tetap dan menguat di Tanah Air yang menjadi spirit kebangsaan. Makanya lahir Pancasila. Marhaenisme, kerakyatan, semua itu inspirasi api Islam.

Gus Dur pribumisasi Islam. Islam yang sangat mulia, yang sangat normatif. Norma bisa kawin-kinawin dengan realitas lokal. Gus Dur mewarisi Wali Songo yang berhasil mengislamkan Jawa dan Indonesia dengan cara kawin-mengawinkan antara ajaran dogma normatif dan realitas kultural.

"Belum lagi Soekarno berhasil membuat narasi kemandirian bangsa, antikolonialisme, dan imperialisme. Gus Dur berhasil menata demokrasi. Tidak pernah ada negara demokrasi tanpa Gus Dur mendirikan Forum Demokrasi," katanya.

Dari seluruh narasi tersebut, kata Cak Imin, Indonesia butuh Gus Dur dan Sukarno. Makanya visi Sukarno-Gus Dur saya gabung menjadi Sudurisme. Sukarno dan Gus Durisme. Sudur itu ada bahasa Arab, artinya dada. Di atas dada ini harga diri. Di atas dada ini kepercayaan. Di atas ini harus ada kemandirian. Negeri tidak bisa didikte negara lain.
"Sudurisme itu kira-kira itu kemandirian kemanusiaan, dan harus mudah ditangkap oleh semua masyarakat, itu menjadi visi saya. Jadi ini bukan soal percaya diri. Ini soal perintah para kiai, perintah partai. Istilah NU-nya itu adalah fardu kifayah. Saya diwajibkan oleh para kiai, harus ada yang mewakili aspirasi. Nih, ya, kalau mau enak, ya enaknya jadi Wakil Ketua MPR saja," tandasnya.