Dewan Pengurus Pusat
Partai Kebangkitan Bangsa

Terorisme Dapat Dibuat Layu Sebelum Berkembang

Berita Headline
Terorisme Dapat Dibuat Layu Sebelum Berkembang

Jakarta - BILA negara ini dijalankan sesuai tujuan bernegara dan bermasyarakat dan sejalan dengan cita-cita para pendiri bangsa ini, tentu terorisme tak akan muncul. Mereka akan layu sebelum berkembang.

"Artinya, bila negara ini dijalankan sesuai kaidah umum, yakni transparan, akuntabel dan tidak korup, maka terorisme tidak akan muncul. Mereka layu sebelum berkembang," tegas Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) H Abdul Muhaimin Iskandar di Jakarta, Jumat (15/1/2015).

H Abdul Muhaimin Iskandar atau biasa disapa dengan panggilan Cak Imin mengingatkan, motif radikalisme bukan sekadar persoalan ideologis. Tapi juga terkait sejarah, dinamika politik, sosial dan ekonomi akibat modernisasi globalisasi.

"Memang kita bisa menumpas dan meredam aksi kekerasan yang terjadi kemarin di Jakarta. Tapi itu tak serta merta bisa menumpas akar permasalahannya," katanya.

Menurut Cak Imin, apapun motif kekerasan pada 14 Januari 2016, mereka adalah api militansi dan radikalisme yang terbakar karena gerakan fundamentalisme.

"Kalau perang anti terorisme cuma mengandalkan respon ad-hoc yang mengutamakan aspek keamanan dan taktik-taktik tambal sulam, jelas tak memadai lagi," ujarnya.

Perlu diingat, tutur Cak Imin, dalam 50 tahun terakhir ini banyak rezim berkuasa di dunia Islam usai kolonialisasi gagal menjanjikan kesejahteraan, bahkan menjadi tirani.

Padahal, ungkap Cak Imin, radikalisme tumbuh sebagai ungkapan protes atas kegagalan mensejahterakan masyarakat. Para para pelaku teror itu berharap muncul sistem politik, sosial dan ekonomi yang lebih menjanjikan.

"Modernisasi dan globalisasi bikin kecewa individu-indivisu yang tak beruntung dalam dinamika politik dan mengarah ke titik ekstrim. Krisis identitas," katanya.

Ia menambahkan, bila identitas personal terkikis globalisasi, maka yang akan terjadi adalah kekacauan kontrol sosial. Dimana negara tak transparan, tak akuntabilitas, korup dan orang banyak hilang kendali.

"Situasi seperti itu memunculkan gerakan radikalisme yang menawarkan jalan keluar ilusif dan memberi payung komunalitas alternatif dengan budaya tersendiri. Akhirnya mereka bangga sebagai anggota komunal itu. Karena merasa beda dengan masyarakat terbuka yang selalu menekan dan yang menguatkan identitas mereka," kata Cak Imin.

Pada konteks ini, ujar Cak Imin isu penerapan syariah, pendirian khilafah bahkan jihad yang didengungkan kaum radikal punya makna signifikan.

"Tugas kita sebagai kader PKB untuk perbaiki, lalu perkuat sel-sel negara seperti akuntabilitas, transparansi dan anti korupsi. Dan terpenting menyuarakan nilai-nilai religius yang membawa kedamaian, persatuan yang menguatkan ikatan kohesi sosial dan keberagaman," katanya.

Dengan begitu, tegas Cak Imin, Insya Allah ekspresi kemarahan dan frustasi kaum radikal bisa berubah dihadapkan dengan pemberdayaan sosial ekonomi berskala luas.

"Keberhasilan memanusiakan kaum radikal yang frustasi dengan keadaan pemberdayaan sosial, ekonomi dan politik kepada mereka jadi prasyarat antiradikalisme," tutupnya.