Densus 26 Tebar Virus Cinta NKRI di Nganjuk

Berita Daerah
Densus 26 Tebar Virus Cinta NKRI di Nganjuk

Nganjuk - Tim Pendidikan Khusus Ahlussunnah wal Jamaah 1926 (Densus) 26 kembali  menyebarkan ajaran ahlus sunnah wal jamaah. Kali ini di Pesantren Miftahul Mubtadi'in Krempyang, Nganjuk, Jawa Timur.

Kehadiran Densus 26 mendapatkan sambutan luar biasa dari warga Nganjuk dan sekitarnya. Sedikitnya 800 orang berduyun-duyun memadati lokasi pengajian. Mereka adalah pengurus Nahdatul Ulama Kabupaten Nganjuk, mahasiswa STAI Darussalam, serta masyarakat umum.

Densus 26 angkatan XXI diisi dengan pengajian kitab Al-Muqtathafat Li Ahlil Bidayaat selama satu hari dengan pemateri Imam Besar Densus 26 KH Marzuqi Mustamar.

Di hadapan para peserta pengajian, KH Marzuki Mustamar menegaskan, ajaran ahlusunnah wal jamaah harus senantiasa dilestarikan, karena sesuai dengan kebutuhan umat Islam di Indonesia. “NU itu Islam banget dan Indonesia banget. Tidak seperti para kaum salafi wahabi yang mengaku Islam banget, tapi tidak Indonesia banget,” terangnya.

Karena itu, KH Marzuqi berpesan, di tengah maraknya gerakan Khilafah Islamiyah dan gerakan sekelompok masyarakat yang ingin mendirikan negara Islam, maka warga NU wajib menjaga NKRI seperti kewajiban menjaga masjid.

“Karena komitmen NU kepada NKRI sudah final. NU menyatakan secara tegas bahwa NKRI dan pancasila adalah harga mati,” terangnya.

Argumentasi bahwa Indonesia sudah bisa disebut negara kafir atau thoghut seperti yang selalu dilontarkan kaum salafi dan wahabi, menurut KH Marzuki, jelas mengada-ada.

Dia menegaskan, Indonesia adalah negara yang sah karena sudah menjalankan 5 misi besar yang diamanatkan syariah terhadap negara. Yaitu, menjaga agama, menjaga akal, menjaga keturunan, menjaga martabat, dan menjaga kepemilikan harta.      

“Kalau Indonesia dibubarkan dan diganti Negara Islam atau apa pun namanya, saya yakin lima amanat syariah tidak akan dijalankan. Dalam qowaidul fiqh ‘La ya juzu tarkul mahakqoq li ajli mauhum’. Artinya, tidak boleh meninggalkan sesuatu yang nyata untuk hal yang masih diangan-angan. NKRI itu sudah menjadi negara-bangsa yang nyata sementara Khilafah Islamiyah atau Negara Islam itu masih dalam angan-angan,” terangnya panjang lebar.

Lebih lanjut, KH Marzuqi kembali menekankan pentingnya rasa cinta tanah air lengkap beserta alasan-alasannya. Sehinga para peserta pengajian menjadi semakin bulat tekadnya untuk menjaga NKRI mengabaikan wacana pendirian Negara Islam.

“Kenapa? Sebab, kita ini nyata-nyata lahir, hidup, makan dari hasil bumi Indonesia, minum air, air Indonesia, menghirup udara, udara Indonesia. Jadi kita adalah manusia Indonesia. Jadi tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mencintai Indonesia,” tegasnya.

Turut hadir dalam pengajian ini Pengasuh Pondok Putri Pesantren Miftahul Mubtadi'in KH Hamam Ghozali dan Pengasuh Pesantren Putra Miftahul Mubtadi'in KH M Ridwan Syaibani. Acara ini terselenggara atas kerjasama KMNU Indonesia dengan STAI Darussalam Pondok Pesantren Miftahul Mubtadi'in, Krempyang, Nganjuk, Jawa Timur.

Dengan adanya acara ini, diharapkan para peserta usai mengikuti pengajian bisa memperkuat rasa cinta tanah air, melestarikan amaliyah NU di masyarakat, dan radikalisme agama di Indonesia tidak tumbuh subur karena akan membahayakan NKRI.

Selain itu, para peserta juga diharapkan mampu menyebarkan virus cinta NKRI dan memberikan pencerahan kepada masyarakat luas. (laporan Achmad Riyanto)

No votes yet