Kolom Guru Bangsa

Oleh Abdurrahman Wahid 
 
Pertanyaan dan sekaligus judul di atas, dapat dijawab dengan berbagai cara. Secara historis, perang dunia kedua berakhir dengan kalahnya Adolf Hitler dan Jenderal Tojo (Jepang) pada tahun 1945. Peperangan yang terjadi setelah itu secara umum dapat dianggap sebagai perang kemerdekaan, setidak-tidaknya dari kaca mata negara-negara yang memerdekakan diri dari penjajahan. Namun anehnya, perang Arab-Israel dalam tahun 1948, hanya oleh orang-orang Israel saja dianggap sebagai perang kemerdekaan, karena orang-orang Israel melihat gerakan-gerakan Hagana, yang dipimpin Menachem Begin sebagai upaya mencapai kemerdekaan,  sedangkan sejarah dunia tidak mau mencatatnya demikian.
 
Oleh Abdurrahman Wahid
 
Dalam tiga dasawarsa terakhir ini, beberapa pemikir mengemukakan apa yang mereka namakan sebagai teori ekonomi Islam. Semula, gagasan tersebut berangkat dari ajaran formal Islam mengenai riba dan asuransi, yang berintikan penolakan terhadap bunga bank sebagai riba, dan praktek asuransi yang bersandar pada sifat “untung-untungan”. Ditambahkan dalam kedua hal itu, penolakan pada persaingan bebas (laisses faire) sebagai sistem ekonomi yang banyak digunakan. Intinya dalam hal  ini adalah sikap melindungi yang lemah dan membatasi yang kuat seperti dalam pandangan Islam.
 
Dalam perkembangan berikutnya, dasawarsa 80-an memunculkan sejumlah orang yang dianggap menjadi eksponen pandangan ekonomi Islam. Mereka banyak berasal dari lingkungan lembaga swadaya masyarakat (LSM), hingga tak heran jika mereka mengacu pada orientasi kepentingan rakyat kecil dan menolak peranan perusahaan-perusahaan besar dalam tatanan  ekonomi yang ada waktu itu. Namun, mereka gagal mengajukan sebuah teori yang bulat dan utuh yang dapat dianggap mewakili ekonomi Islam. Keberatan mereka terhadap praktek-praktek Kolusi, Korupsi dan Nepotisme (KKN), monopoli dan dominasi (oleh kerjasama pengusaha dengan para pejabat pemerintahan), adalah keberatan yang tidak didukung oleh teori yang lengkap, dan dengan demikian hanya dianggap sebagai orientasi kelompok belaka.
 
Oleh Abdurrahman Wahid
 
Dalam pandangan Islam, tujuan hidup perorangan adalah mencari kebahagian dunia dan akhirat yang dicapai melalui penempatan kehidupan manusia dalam kerangka peribadatan kepada Allah Swt. Terkenal dalam hal ini firman Allah melalui kitab suci Al-Qur’an: “(wa maa khalaqtu al-jinna wa al-Insa illa liya’buduun). Dengan adanya konteks ini, manusia selalu merasakan kebutuhan akan Tuhan, dan dengan demikian ia tidak berbuat sesuka hati. Karena itulah, akan ada kendali atas perilakunya selama hidup dalam hal ini adalah pencarian pahala/kebaikan di akhirat, dan pencegahan sesuatu yang secara moral dinilai buruk atau baik di dunia. Karena itulah do’a seorang muslim yang paling tepat adalah “wahai Tuhan, berikan kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat” (rabbana aatina fi ad-dunya hasanatan wa al-akhirati hasanatan).
 
Yang digambarkan di atas adalah kerangka mikro bagi kehidupan seorang muslim di dunia dan akhirat. Hal ini adalah sesuatu yang pokok dalam kehidupan seorang manusia, yang disimpulkan dari keyakinan akan adanya Allah dan bahwa Nabi Muhammad saw adalah utusan-Nya. Tanpa kedua hal pokok itu sebagai keyakinan, secara teknis dia bukanlah seorang muslim.
 
Oleh Abdurrahman Wahid
 
PARA penganjur “negara Islam” selalu menggunakan dua buah firman Allah SWT dalam kitab suci Al-Qur’an sebagai landasan bagi pemikiran mereka. Di satu pihak, mereka selalu mengemukakan bahwa kitab suci tersebut menyatakan;  “Masukilah Islam/kedamaian secara keseluruhan” (udkhulu fi al-silmi kaaffah), yang jelas-jelas harus ditafsirkan dengan mengambil Islam tidaklah boleh sepotong-potong belaka. Padahal, Islam juga menolak atas sikap mengkhususkan sekelompok manusia dari kelompok-kelompok lain. Ini adalah prinsip yang mulia, namun sedikit sekali yang diperhatikan kaum muslimin. Dalam hal ini, mereka dapat dinyatakan “terkena” firman Tuhan dalam kitab suci tersebut; “Tiap kelompok sangat bangga dengan apa yang dimilikinya” (kullu hizbin bima ladaihim farihun) dengan mementingkan “milik sendiri” itu, mereka melupakan firman lain: “Dan tiadalah Ku-utus Engkau Ya Muhammad, kecuali sebagai pembawa persaudaraan bagi umat manusia” (wa ma arsalnaaka illa rahmatan li al-‘alamien). 
 
Oleh Abdurrahman Wahid
 
BUKU yang berada di tangan pembaca ini adalah perjalanan hidup seorang anak manusia yang didera oleh kemanusiaanya sendiri. Ia  ingin mendekatkan diri kepada Allah SWT sejauh mungkin (atau sedekat mungkin..?), dan cerita buku ini adalah kisah mencari kedekatan tersebut. Sebuah perjalanan panjang, yang sebenarnya di warnai oleh pengalaman hidup pribadi yang dahsyat. Tetapi, karena yang di alami adalah pengalaman pribadi, dengan sendirinya orang lain menjadi tidak tertarik. Inilah apa yang dinamakan kebodohan manusia yang tidak pernah mampu menarik pelajaran dari pengalaman semua agama, atau lebih tepat pengalaman para Nabi, adalah bagaimana menjadikan pengalaman pribadi itu menjadi sesuatu yang bersifat umum dan berlaku bagi semua manusia.
 
Oleh Aburrahman Wahid
 
SEJARAH perkembangan Islam di manapun senantiasa memperlihatkan jalinan antara dua hal, yaitu sistem individu (perorangan) dan sisi kemasyarakatan (sosial). Karenanya kedua hal itu harus dimengerti benar,  kalau kita menginginkan pengetahuan akan agama tersebut. Dalam arti, benar-benar di dasarkan pada pengertian yang mendalam. Kalau hal ini telah dilaksanakan, maka akan kita lihat beberapa kemungkinan untuk pengembangan lebih jauh. Tentu saja ada yang menyanggah pendirian tersebut, dengan dalih Islam telah sempurna, dan tidak memmerlukan pengembangan. Dalam hal ini pendapat tersebut perlu diuji kebenarannya, agar kita memperoleh gambaran lengkap tentang apa yang seyogyanya dilakukan, dan selayaknya tidak dilakukan. Dengan kata lain, sebenarnya kita saat ini memerlukan skala prioritas yang lebih jelas, dalam menatap masa depan.
 

Oleh Abdurrahman Wahid

Dalam penerbitan perdana sebuah jurnal ilmiah bulanan Nahdlatul Ulama, yang diterbitkan pada 1928 dan bertahan sampai tahun 60- an, KH M. Hasyim Asy’ari menuliskan fatwa beliau: bahwa kentongan (alat dari kayu yang dipukul hingga berbunyi nyaring) tidak diperkenankan untuk memanggil shalat dalam hukum Islam. Dasar dari pendapatnya itu adalah kelangkaan hadis Nabi; biasanya disebut sebagai tidak adanya teks tertulis (dalil naqli) dalam hal ini.

Dalam penerbitan bulan berikutnya, pendapat tersebut disanggah oleh wakil beliau Kyai Faqih dari Maskumambang, Gresik, yang menyatakan bahwa kentongan harus diperkenankan, karena bisa dianalogkan atau diqiyaskan kepada beduk sebagai alat pemanggil shalat. Karena beduk diperkenankan, atas adanya sumber tertulis (dalil naqli) berupa hadis Nabi Muhammad SAW. Mengenai adanya atau dipergunakannya alat tersebut pada zaman Nabi, maka kentongan pun harus diperkenankan.

DEWAN PENGURUS PUSAT
PARTAI KEBANGKITAN BANGSA
JL. Raden Saleh No 9 Jakarta Pusat 10430
Telp : 021-3145328 FAX : 021-3145329
Email :
MEDIA CENTER DPP PKB
Situs resmi Partai Kebangkitan Bangsa.
Jika ingin berpartisipasi, silakan
Kirim artikel / Foto ke email:
© 2016 PARTAI KEBANGKITAN BANGSA | All Rights Reserved.